Lompat ke isi utama

Berita

Anwar Engga Ajak Generasi Muda SMA Negeri 1 Wulla Waijelu Jadi Pemilih Cerdas dan Pengawas Partisipatif Pemilu

Anwar Engga Ajak Generasi

Anggota Bawaslu Kabupaten Sumba Timur Anwar Engga menjadi pemateri dalam kegiatan Sosialisasi Paket Undang-Undang bagi Generasi Muda di SMA Negeri 1 Wulla Waijelu, Kamis (15/10/2026).

Waingapu, Bawaslu Sumba Timur — Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sumba Timur, Anwar Engga, mengajak generasi muda untuk mengambil bagian dalam mengawal demokrasi melalui pendidikan politik dan pengawasan pemilu partisipatif.

Ajakan tersebut disampaikan saat dirinya membawakan materi dalam kegiatan Sosialisasi Paket Undang-Undang bagi Generasi Muda di SMA Negeri 1 Wulla Waijelu, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan yang diprakarsai oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sumba Timur ini diikuti sekitar 30 siswa. Dalam kesempatan tersebut, Anwar membawakan materi berjudul “Membangun Peran dan Karakter Generasi Muda Melalui Pendidikan Politik, Wujudkan Demokrasi Berkualitas”.

Dalam pemaparannya, Anwar menjelaskan bahwa pemilihan umum (pemilu) merupakan sarana bagi rakyat untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat secara demokratis, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Karena itu, generasi muda perlu memahami bukan hanya hak pilihnya, tetapi juga prinsip-prinsip yang menjadi dasar pelaksanaan pemilu.

Ia juga mengingatkan para siswa untuk memahami asas-asas pemilu yang berlaku di Indonesia, yakni langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber Jurdil). Asas tersebut menjadi dasar penting agar pemilu berlangsung secara demokratis, memberikan kesempatan yang setara kepada warga negara, serta menjamin hak pilih masyarakat tanpa tekanan maupun kecurangan.

“Pendidikan politik bukan hanya tentang mengetahui siapa yang harus dipilih, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Generasi muda perlu belajar sejak sekarang agar nantinya mampu menentukan pilihan secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab,” jelas Anwar dalam pemaparannya.

Lebih lanjut, Anwar menegaskan bahwa pengawasan pemilu bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Bawaslu, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda dan pemilih pemula.

Menurutnya, anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton ketika proses demokrasi berlangsung, tetapi harus mengambil bagian dalam menjaga agar setiap tahapan pemilu berjalan sesuai aturan.

Ia mendorong para siswa untuk terlibat dalam pengawasan partisipatif, salah satunya melalui pendidikan pengawasan partisipatif yang bertujuan membangun kesadaran masyarakat untuk ikut mengawasi penyelenggaraan pemilu.

“Adik-adik tidak harus menunggu menjadi penyelenggara pemilu untuk ikut menjaga demokrasi. Kalian bisa mulai dari hal sederhana, seperti tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya, tidak ikut menyebarkan berita bohong, dan berani menyampaikan dugaan pelanggaran melalui jalur resmi,” ungkapnya.

Anwar juga mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menerima informasi politik. Menurutnya, generasi muda harus mampu membedakan informasi yang benar dan keliru, terutama ketika menghadapi berbagai informasi yang beredar di media sosial menjelang pemilu.

Apabila menemukan dugaan pelanggaran atau kecurangan, para siswa dan masyarakat diharapkan tidak langsung menghakimi ataupun menyebarkan tuduhan tanpa dasar. Dugaan tersebut sebaiknya disampaikan kepada pengawas pemilu melalui mekanisme yang berlaku, baik di tingkat desa atau kelurahan maupun kecamatan, agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan.

“Kalau ada perbedaan data atau sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan aturan, jangan hanya dibicarakan atau disebarkan di media sosial. Periksa faktanya, pahami ketentuannya, lalu sampaikan melalui mekanisme pengawasan yang tersedia. Demokrasi yang baik membutuhkan masyarakat yang berani, tetapi juga bertanggung jawab,” tegas Anwar.

Ia menambahkan bahwa demokrasi yang berkualitas merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera. Karena itu, pemilu yang berkualitas perlu didukung oleh penyelenggara yang berintegritas, peserta pemilu yang taat aturan, serta masyarakat yang aktif mengawasi jalannya proses demokrasi.

“Negara yang sejahtera membutuhkan demokrasi yang berkualitas. Demokrasi yang berkualitas lahir dari pemilu yang dilaksanakan sesuai aturan, penyelenggara yang berintegritas, dan masyarakat yang ikut menjaga prosesnya. Generasi muda memiliki peran penting dalam mewujudkan hal tersebut,” tambahnya.

Sebelumnya, Kepala SMA Negeri 1 Wulla Waijelu Hermanus H. Hanggengga, SE menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kesbangpol, Anggota KPU dan Bawaslu Kabupaten Sumba Timur yang telah hadir memberikan pemahaman politik kepada para siswa. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan mengenai pemilu dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara.

Di hadapan sekitar 30 siswa yang mengikuti kegiatan tersebut, kepala sekolah berharap para peserta tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga mampu meneruskannya kepada teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sekitar.

“Anak-anak yang mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penyambung informasi yang baik bagi teman-teman dan keluarga. Pengetahuan yang diperoleh hari ini jangan berhenti sampai di sini, tetapi perlu dibagikan agar semakin banyak orang memahami pentingnya pemilu dan menggunakan hak pilih secara bijak,” pesannya.

Kepala sekolah juga menekankan pentingnya kesadaran warga negara dalam menggunakan hak pilih. Menurutnya, partisipasi dalam pemilu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara untuk ikut menentukan masa depan bangsa dan daerah.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, para siswa diharapkan semakin memahami bahwa pendidikan politik bukan sekadar persiapan menghadapi pemilu, melainkan bagian dari pembentukan karakter generasi muda yang kritis, berintegritas, bertanggung jawab, dan peduli terhadap kehidupan demokrasi.

Penulis dan Foto : Humas